Reading Centhini: Bukan Cinta Satu Malam eps. Icik Icik Ahum (gallery, synopsis and video)

Icik-icik Ahum

12 February 2016, at IFI-LIP Jogjakarta

This piece presents the marriage of Amongraga and Tambangraras, where in the first 40 days of the marriage, Amongraga gave his teachings about spiritual matters to his wife,and on the 40th night, the marriage is consummated.

Here is Amongraga’s teachings to Tambangraras (in Indonesian)

Aduhai permata hatiku, jangan kau terhalang ngelmu. Hyang Agung telah melimpahkan karunia banyak sekali kepada kita. Pertemuan kita berdua juga karena kehendak Tuhan.

Aku ingin mengajar ngelmu padamu. Biarpun kau sudah ahli, dinda, belumlah sah jika bukan suami yang mengajar. Kewajiban suami adalah mengajar. Ngelmu dan nafkah sama pentingnya.

Dinda, dengarkanlah… Ada tiga hal tentang sempurnanya ibadah. Yang pertama suci badannya, kedua suci perkataannya, yang ketiga suci hatinya. Ibadah itu memuliakan Dzat. Dzat yang bersifat rahman, bernama isbat dan nafi yaitu kunfayakun. Itulah, Dinda, hakikat ibadah, memuliakan yang suci, meluhurkan yang kuasa.

Yang abadi adalah engkau dalam ibadahmu. Selalu rindulah akan ibadah. Raihlah, dinda, mengenai iman.

Jika perahu diumpamakan hamba, samudra diumpamakan Tuhan yang tidak boleh surut dan tidak boleh meluap oleh perahu dan sampah. Orang yang sudah tinggi ilmunya akan menghayati bahwa badan seumpama perahu yang memuat lautan.

Tuhan tidak pernah mengubah segala makhluk… yang mengubah adalah diri kita sendiri yang menyimpang…Barang siapa tidak berilmu, matilah ia sejak saat itu.. Siapa yang berilmu akan hidup selamanya, hanya tempatnya saja yang pindah.

Tuhan mencipta alam itu tidak wajib dan tidak mustahil, hanya kuasa. Adapun Tuhan mencipta alam seisinya membuktikan bahwa kekayaan Tuhan tidak terkatakan, mencipta segalanya tanpa mengharap manfaatnya, berbeda dengan makhluk yang selalu mengharap manfaat.

Benar dapat menjadi salah, adinda, sebab belum tahu haknya dan kewajibannya. Orang berilmu, ibarat pohon besar, dapat roboh oleh ketam padi, orang pandai dapat celaka atas kesombongannya.

Tidak ada orang yang diizinkan membuka kegaiban Tuhan, kecuali orang yang telah sempurna ilmunya kepada Tuhan, karena orang itu telah paham akan wujud dan mustahilnya.

Wujud dan mustahil itu dua tetapi satu, persatuan Tuhan dan mahkluk, seketika di sana. Dinamakan tunggal karena tunggal asalnya.

Adapun wujud adalah adanya kita ini dan adanya Tuhan. Dengan demikian, wujud kita adalah zat Tuhan, ilmu kita sifat Tuhan. Itulah yang dinamakan wujud mustahil, Adinda. Tuhan itu sifat makhluk, makhluk itu sifat Tuhan, adinda. Adanya Tuhan adalah wujud kita. Makna kata mustahil adalah pertemuan makhluk dan Tuhan.

Janganlah merasa jika tidak mustahil. Itulah tentang yang tidak dapat dibicarakan, kecuali bagi yang telah menyatu di hati dalam segala hal. Itulah, adinda, persembunyian rasa dalam gaib, jika sudah tertanam dalam dirimu. Tutupilah jangan sampai ketahuan, yang rapat, terimalah sebagai makhluk, akhirilah dengan perasaan takut dan kasih kepada Tuhan.

Kekuatan Tuhan itu, dekat tidak bersentuhan, jauh tidak terbatas. Kita bagaikan ikan di lautan. Laut itu Tuhan, meliputi semua ikan. Segala sesuatu mengenai ikan itu tergantung lautnya, namun demikian tidak merasa bahwa dikuasai oleh laut. Demikian pula manusia, tidak mengetahui kedekatannya.

Awal mula pengetahuan, dinda, haruslah dengan mata kepala, tidak boleh dengan saksi. Tubuh kita terdiri dari darah, kulit, daging, tulang, sumsum dan rasa jatmika. Ketahuilah mati dalam hidup dan diamnya. Kita mengambang, tenggelam dalam kesunyian, perlambang masuk dalam kesejatian, sejati yang tidak diciptakan. Itulah, Dinda, hening sejati yaitu di dalam hidup, hidup dalam hati penerapannya.

Sulit nampaknya lahir batin, jika tanpa cermin berhias. Cermin hias adalah ilmu. Ibarat orang bercermin, dinda, haruslah mencari kaca yang bening bersinar. Apabila kacanya bohong, yang berkaca berbeda rupa dengan yang di dalam cermin.

Dinda, seyogyanya kau ketahui panembah yang sempurna. Apabila masih menyembah dan memuji, pengetahuan itu baru separuh. Jangan segera tertawa sebelum mengetahui yang sejati. Jangan senang diwejang tentang petunjuk pelajaran, sebab ini baru berandai-andai. Sesungguhnya yang berhenti menyembah dan memuji dengan diucapkan, hanya heningnya yang jadi. Demikianlah, Dinda, agar bisa purna, diamlah dalam keheningan. Muara lautan tidak bertepi mengarungi kesempurnaan berada dalam dirimu sendiri, dinda.

Hakikat Tuhan itu satu, yang menguasai ada dan tidak ada, sebelum dan sesudah, semua itu dalam satu kekuasaan-Nya. Yang satu berkaitan dengan yang lain, belum dan sudah, kecil dan keseluruhan. Itulah, Dinda, isbat dan nafi. Bukan nafi dan bukan isbat, tidak ada belum maka tidak ada sudah, tidak ada kekosongan maka tidak ada bentuk. Jadi dua-duanya itu satu, hanya satu, tidak kurang dan tidak tambah.

Keduanya wanita dan pria.

Hilanglah dua nama pria dan wanita; keduanya menyatu menjadi satu benih yang mengembangkan keturunan, yang bersentuh, yang berlihat.

Adapun hakikat pria itu adalah rasa yang mulia.

Adapun hakikat wanita itu adalah anugerah hidup yang sangat mulia

Percampuran engkau dan aku adalah Hyang. Engkau dan aku tidaklah berbeda. Hakikat pria adalah wanita; hakikat wanita adalah pria. Wanita itu ada di dalam pria, pria ada di dalam wanita

Quite lengthy huh? Well, it is the summarized version. the original version is of course much longer, since the teachings spread across almost 40 nights.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: