Reading Centhini: Suluk Tambangraras (gallery and synopsis) in Jogjakarta

0WlbFDYAP9vV8lQeAWsVnhD-Cd4N0QasQezmNWfvp7Q Ppg2lVY_jLr7VcLIcWIwS6eb26n-U1FyU3an1kFTeXY Ns2S1Qt0jxMlTVc8F4SibTD33xO4twd8rsP4VDo_I-U Ma5EKUF9w5K0nkrCI5RjQwmAut8bjlCXK8Q9szxwQUI l3e3w54T63MRJTHo2YrSxA_ZcehkWA35GL-835FnoG4  psyeaIRPaJaK6jnu5WFCar56VCxWTTBegzlm7DUMeQQ sQQeM51MqZtEDdqpn2fdq1cFDNjlfryXG8cDMsbXmsY twQInIg-ufQnMFTc9u9UF4ZXCF4MkmvvxwHV6Hut4ng XBlQPTNhlItXHz3C2AsTFdC2Dt04MwGNUmqsCPhGgBA YWTR1IdDWGPh2uI13MZtnnRtiWEOgeHg71gXMOJ0mK4

Sooooooo……. Reading Centhini: Suluk Tambangraras in jogja has ended. All the photos above are by Budi N D Dharmawan. Thankyou Budi!!!!

Thankyou to all the audience! I hope you enjoyed the show!

One thing that i observed and still thinking about now…is…… after both shows, there was this long silence after the show, where audience just froze in their seats for few minutes. Were you all shocked? sorry to give you such shock hehehe….

and i realised many people came with this expectation, that I will be reading the physical book to the audience.. hehehe… gotcha! No, of course I am not reading the physical book to you. But I am telling the process of me reading the book. :p

Anyway, these are the review from Jogja local newspaper….

IMG-20150308-WA0014IMG_20150306_135301
image

Serat Centhini, sebuah karya sastra Jawa yang termegah, namun sayangnya jarang dibaca orang.. dan jika dibaca pun, melulu diasosiasikan dengan petualangan seksual, yang kemudian membuat buku ini disebut sebagai Kamasutra Jawa.

Dalam pertunjukan ini, Agnes tidak memberi interpretasi terhadap Serat Centhini; interpretasi diserahkan kembali kepada penonton.

Agnes membaca Serat Centhini dan mengajak penonton untuk ikut membaca Serat Centhini lewat pertunjukan ini, lewat keseharian yang kita alami, lewat orang-orang di sekitar kita dan yang terpenting tapi sering kita lupakan, sambil bercermin kepada hidup kita sendiri.

Perjalanan Agnes dalam membaca Serat Centhini dimulai dari pencarian secara fisik. Kemudian perjalanan ini menjadi kian mendalam: membaca setiap karakter, membaca kondisi psikologis setiap karakter. Perjalanan terus berlanjut untuk memetakan posisi Serat Centhini dalam kehidupan manusia; peran buku ini sebagai ensiklopedia hidup, sebagai pendamping hidup manusia dan sebagai pengorbanan. Lalu kita kembali kepada tujuan penulisan buku ini sendiri. Setiap buku ditulis dengan tujuan tertentu, entah tujuan personal si penulis, atau tujuan untuk pembaca.

Perjalanan hidup dipetakan dengan sangat rinci di Serat Centhini, dan sepertinya, perjalanan itu masih belum berhenti sampai sekarang.

Pada akhirnya, sebuah buku hanyalah serangkaian kalimat yang disusun menjadi cerita jika kita tidak membacanya sambil mereflesikan kembali hidup kita dan mempraktekkan isi dari buku ini.

One thought on “Reading Centhini: Suluk Tambangraras (gallery and synopsis) in Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: